![]() |
| Ilustrasi |
Kisah memalukan pada saat pernikahan Muhammad dan Khadijah tersebut diceritakan oleh At-Tabari dan Ibn Sa’d, tetapi ibn Hisyam tidak memasukannya dalam sirahnya. Bahkan periwayat muslim lainnya mengatakan bahwa Khuwailid mati saat kejadian itu, dan Khadijah dinikahkan dengan Muhammad oleh paman dari Khadijah.
Penyangkalan memang sudah biasa dikalangan muslim yang tidak tahu-menahu tentang riwayat nabinya sendiri, selain yang mereka dengar dari para ustad dan yang didogmakan kepadanya tentang kemuliaan nabi. Ada banyak hadis yang dibuat untuk menghindari rasa malu. Dengan sedikit akal sehat saja, kita tidak sulit untuk menentukan versi mana yang benar dan masuk akal dan mana yang tidak.
Tidak mungkin kaum muslim sendiri sebagai penulis sirah dan hadis-hadis akan mengarang sebuah hadis sedemikian luar biasanya untuk mempermalukan nabinya sendiri. Kecuali mereka memang tidak menyadari bahwa kejujuran ceritanya justru bisa mempermalukan nabinya dan agama mereka sendiri dikemudian hari.
Bagi Muhammad pernikahannya dengan Khadijah merupakan keuntungan besar. Ia “menang banyak”, baik secara finansial dan sosial, juga emosional. Dari Khadijah dia bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang hampir tidak pernah ia rasakan, dan juga jaminan keuangan dan meningkatkan derajat sosial. Tapi ternyata Muhammad bukanlah orang yang suka bekerja. Dia lebih memilih mengasingkan diri.
Namun perbedaannya sekarang, dia bukan anak-anak lagi, dia sudah menikah dan memiliki keluarga, sehingga dalam dunianya yang penuh khayalan ketika menggembalakan kambing itu, sekarang Muhammad tidak lagi merasa terasing. Dia merasa dihormati oleh istrinya dan anak-anaknya. Budaya patriaki membuat Muhammad merasa dihormati oleh istri dan ke sepuluh anak-anak Khadijah, enam dari Muhammad.
Dalam sepuluh tahun perkawinan dengan Muhammad, Khadijah melahirkan enam orang anak bagi Muhammad;
1. Qasim (laki-laki)
Dari anak laki-laki pertamnya inilah asal julukan lain bagi Muhammad dimana banyak orang memanggilnya “Abu al-Qasim” (bapak dari Qasim). Qasim meninggal di usia dua tahun.
2. Zainab (perempuan)
3. Ruqayyah (perempuan)
4. Ummu Kalthum (perempuan)
Dua anak perempuan Muhammad (Ruqayyah dan Umm Kalthum) menikah dengan Usman ibn Affan yang dikemudian hari ia menjadi khalifah ketiga, dan kedua anak perempuan Muhammad meninggal tidak lama setelah itu.
5. Fatimah Az-Zahra (perempuan)
Ia menikah dengan Ali, sepupu dari Muhammad yang kemudian Ali menjadi khalifah keempat. Fatimah adalah satu-satunya anak Muhammad yang mencapai umur hingga 30-an tahun, tetapi ia meninggal hanya enam bulan setelah kematian Muhammad. Fatimah meninggal setelah konfliknya dengan Abu Bakr tentang harta warisan Muhammad yang seharusnya menjadi hak Fatimah tapi di kuasai oleh Abu Bakr.
6. Abdul Manaf (laki-laki)
Ia juga meninggal saat masih bayi. Manaf adalah nama dewa pagan Arab. Namanya mungkin dianggap memalukan sehingga penulis muslim awal banyak memberikan berbagai macam nama yang berbeda kepada anak bungsunya ini. Ada yang menyebut anak bungsu nabi bernama Abdullah, Tayib, dan Tahir. Namun hal itu tidak seharusnya membuat malu kaum muslim, karena Muhammad sendiri tidak malu untuk mengakui, “Aku telah mempersembahkan seekor domba putih bagi dewa al-Uzza, saat aku masih menjadi pengikut agama kaumku.”
Total anak-anak Muhammad sebenarnya ada 7 orang. Anak ke-7 bernama Ibrahim, Ibrahim adalah anak Muhammad dari Maria Quptiyah, wanita budak hadiah dari penguasa Mesir. Ibrahim juga meninggal pada umur sekitar 2 tahunan.
Setelah Muhammad menjadi suami Khadijah dan menjadi seorang ayah dari 10 anak, ia malah lebih sering menyendiri ke sebuah gua, menghabiskan waktunya di dunianya sendiri. Untuk apa semua itu ia lakukan? Sepertinya ia tidak peduli pada keluarganya atau mencari nafkah bagi anak-anaknya (wajarlah jika ada yang berpendapat dia sibuk berkhayal dan bermimpi).
Dalam sirah dan hadis dikisahkan bahwa suatu hari ketika Muhammad menghabiskan waktunya di gua Hira, ia mengalami pengalaman yang aneh. Dia mulai mengalami kontraksi, sakit perut, kejang-kejang dan merasa terhimpit kuat-kuat. Dalam keadaan seperti ini dia seperti mendengar suara-suara dan melihat sesuatu. Kemudian dia berlari kerumah seperti ketakutan, badannya gemetar dan berkeringat. “Selimuti aku, tutupi aku,” pintanya kepada istrinya. “Oh Khadijah, ada apa dengan diriku ini?”
Lalu dia menceritakan semua yang dia alami di goa, dan berkata, “Aku takut sesuatu telah terjadi padaku.” Khadijah menenangkan dan mengatakan padanya untuk tidak merasa takut, karena dia sebenarnya didatangi oleh Malaikat. Setelah Khadijah menceritakan kejadian yang dialami suaminya kepada pamannya ‘Waraqah Ibn Naufal’, maka Khadijah mendapat pembenaran bahwa yang mendatangi suaminya adalah Malaikat Jibril (dalam kepercayaan pra-islam disebut Namus).
Detil dari kisah-kisah ini bersumber dari sirah-sirah klasik dan hadis panjang yang diriwayatkan oleh Aisyah. Pertanyaannya, darimana Aisyah mendapat kisah sedetil itu, padahal saat itu dia belum lahir, dan Aisyah dinikahi Muhammad pada usia 6 tahun ditahun ke-10 kenabiannya, dan pada saat Muhammad meninggal Aisyah baru berumur 18 tahun. Sepertinya kisah tentang Muhammad dan kedatangan Jibril di Gua Hira memang hanya karangan muslim awal, yaitu kaum muslim yang hidup 200-250 tahun kemudian.
Hadis yang menjadi sumber awal klaim kenabian Muhammad ini menggiring pembacanya seolah-olah Muhammad tahu bahwa yang mendatanginya adalah malaikat. Padahal Muhammad sendiri tidak tahu sosok apa yang menekan dirinya di Gua Hira sebelum Waraqah mengatakan ‘Namus’ (Jibril). (Detil hadisnya akan saya lampirkan pada part-3). Sumber
(Bersambung.....)

Post a Comment