![]() |
| Ilustrasi |
Salah satu pernyataan yang senantiasa anak muslim dengar sejak kecil dari para ustadz dan selalu diulang-ulang adalah pernyataan bahwa Muhammad menikahi janda-janda tua yang tidak cantik, dan pernikahan itu bukan untuk pemuas birahi melainkan untuk mengangkat derajat wanita dan memperkuat persaudaraan. Diantara pernyataannya sebagai berikut:
Rasulullah s.a.w menikahi sebelas orang wanita. Tentu saja hal itu Nabi lakukan bukan untuk menyalurkan nafsu seks, sebab sepuluh diantara sebelas wanita itu nabi nikahi ketika mereka sudah menjanda dan telah tua renta. [Buku Pintar Agama Islam-Syamsul Rijal Hamid- ‘Penebar Salam’, Bogor 2002, halaman 99].
Dan ada lagi pernyataan berikut; "Semua wanita yang beliau nikahi tidak lain adalah para janda, yang tidak bisa dikatakan muda, apalagi cantik. Satu-satunya isteri yang dinikahi dalam keadaan perawan hanyalah Aisyah r.a. Meski pada usia yang masih muda, tapi ukuran usia nikah di semua peradaban dunia ini tidak bisa disamakan." [dikutip dari: Jawaban Eramuslim atas artikel Faithfreedom.com].
Jadi menurut pernyataan diatas, istri-istri Muhammad adalah :
• Janda
• Tidak cantik
• Tidak muda (tua renta)
• Bukan untuk pemuas nafsu.
Apakah klaim tersebut benar atau tidak lebih dari kebohongan belaka? Kita akan membahasnya dalam beberapa periwayatan berikut ini;
Setelah kematiah Khadijah, istri pertamanya, Muhammad langsung mengoleksi wanita-wanita (istri dan budak). Hal yang tidak dilakukannya ketika Khadijah masih hidup, karena hampir seluruh rahasia kehidupan Muhammad ada di tangan istri pertamanya itu.
Di antara umur 50 sampai 58 tahun, Muhammad mengumpulkan setidaknya tujuh istri. Umur istri-istrinya mulai dari anak ingusan berumur 6 tahun (Aisyah) hingga wanita 35-an tahun (Hindun). Lebih mengejutkan lagi di usia yang sudah 58 tahun Muhammad masih mengoleksi 4 orang istri dengan umur dari 17 tahun (Safiyah) sampai 35 tahun (Maimunah).
Menurut Al-Halabi, Muhammad berhubungan dengan lebih dari 30 wanita, namun dikatakan bahwa dia menikah secara sah hanya dengan 22 wanita. Enam wanita diantaranya adalah wanita yang menawarkan diri kepada sang nabi namun hanya empat orang yang nabi inginkan. [Al-Sira Al-Halabia, hal 417].
Menurut Persian Journal; ‘Muhammad & His Wives’, September, 2005. Istri-istri sah (wanita yang dinikahi) Muhammad berjumlah 16 orang, ditambah 2 orang budak wanita (gundik), dan 4 orang wanita yang menyerahkan diri. Ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh cendekiawan muslim Ali Dashti, mereka adalah;
1. Khadijah bint Kuwailid
2. Saudah bint Zam’a
3. Aisyah bint Abu Bakr
4. Umm Salamah (Hindun bint Umaiyah)
5. Hafsah bint Umar bin Al-Khattab
6. Zaynab bint Jash (i)
7. Juwairiyah bint Al-Harith
8. Umm Habiba
9. Safiyah bint Huyay
10. Maimunah bint Al-Harith (i)
11. Fatimah
12. Ramlah bint Abu Sufyan (putri Abu Sufyan bin Harb)
13. Asma dari Saba
14. Zaynab Al-Khuzaima (ii)
15. Hablah
16. Asma bint Al-Nu’man
Dua orang budak yang oleh para ulama juga sering disebut sebagai istri, walaupun tidak ada riwayat tentang perkawinan mereka, yakni:
1. Maria Qubtiyah
2. Rihana bint Zayd
Dan ada empat wanita lagi yang dikategorikan sebagai wanita-wanita muslim yang menyerahkan diri mereka untuk Muhammad:
1. Khaula binti Hakim
2. Maimunah (ii)
3. Zaynab (iii)
4. Umm Sharik
Al-Tabari mengatakan, “Rasulullah menikahi lima belas wanita. Dia menggabungkan tujuh pada satu saat dan meninggalkan delapan.” [Al-Tabari, Vol IX, hal 126].
1. KHADIJAH BINT KUWAILID
Sebagai penggembala domba, Konon Muhammad dipanggil Abu Kabsha. Nama tersebut menempel pada masa remajanya, nama panggilan ini adalah bentuk feminin dari kata ‘domba kecil’. Disela-sela kegiatannya mengembalakan kambing upahan milik kambing, Muhammad yang ketika itu berusia 25 tahun dicarikan pekerjaan di sebuah perusahaan dagang milik wanita kaya yang masih saudara jauh, bernama Khadijah, berusia 40 tahun.
Suatu hari Muhammad mendapat kepercayaan untuk melakukan perjalanan dagang ke Syria untuk menjual dan membeli barang-barang pesanan Khadijah. Kepada rekan-rekan bisnisnya Khadijah memperkenalkan bahwa Muhammad adalah orang kepercayaannya (al-Amin). Ketika Muhammad kembali dari Syria, Khadijah yang sudah cukup lama menjanda melamar Muhammad untuk menikah dengannya.
Saat itu Khadijah berusia empat puluh tahun, diduga masih cantik dan janda kaya. Ia adalah wanita terkaya di Mekah. Banyak pria berkuasa yang ingin menikahinya dan ia menolak semuanya. Muhammad adalah pemuda yang tidak memiliki apa-apa dan tidak punya nama. Ia tidak memiliki pekerjaan, uang, maupun ketrampilan. Meskipun Khadijah sudah berusia 40 tahun, dalam masyarakat patriakis seperti Mekah, Khadijah butuh izin dari ayahnya untuk menikah. Ini tidak gampang.
Khadijah merancang rencana yang berani demi bisa menikah dengan Muhammad. Ia tahu akan kelemahan ayahnya terhadap minuman keras. Khadijah tidak mengatakan bahwa ia akan menikah, namun ia mengundang ayahnya dan menyuguhinya minuman anggur. Ketika ayahnya mabuk, ia menaburinya dengan wangi-wangian dan mengenakan pakaian Yaman mahal. Ia lalu menyiapkan pesta dan mengundang Muhammad dan pamannya saat ayahnya masih mabuk.
Ketika ayah Khadijah, Khuwailid, sadar dari mabuknya, ia melihat ke sekelilingnya dengan heran. Ia menanyakan apa maksud dari tanda-tanda adanya pesta pernikahan, sapi yang dipotong, wangi-wangian, dan pakaian pernikahan. Ketika ia diberitahu akan apa yang terjadi. Kepadanya diberitahu “pakaian pernikahan itu dikenakan Muhammad kepadamu, menantumu”.
Khuwailid menjadi sangat marah dan menyatakan bahwa ia tidak akan pernah setuju untuk memberikan putrinya kepada seorang pemuda tanpa nama. Rombongan Muhammad menjawab dengan marah bahwa rancangan pernikahan itu bukan berasal dari mereka, tetapi dari puterinya sendiri. Kedua belah pihak tidak terima dan bertengkar hingga mengeluarkan senjata, pertumpahan darah nyaris terjadi. Seketika Khadijah turun tangan maka rekonsiliasi pun terjadi. [Al-Tabari, Vol 6, halaman 49]
(Bersambung......)

Post a Comment